Kamis, 28 April 2011

Lukisan Berjudul Namanya Juga Dunia

0 komentar

Lukisan dunia mendecak hati. Paduan warnanya sangat sinergis. Biru menghiasi hamparan atmosfer ikut tenggelam bersamanya. Ikut-ikutan pula buih-buih putih meruih di tengah refleksi biru ombak di tengah lautan. Goyangan rumput hijau melambai-lambai membuai mata ke tingkat tertinggi dalam kehidupan. Sesekali warna kuning tua menghampar di satu sisi lapangan pandang. Semut, cacing, dan undur-undur bernyanyi bersyukur di tundukan-tundukan tanaman padi.

Di hitamnya malam, seru putih bintang kepada nelayan-nelayan berkapal coklat untuk bersemangat. Karena anak berbaju merah lusuh dan terkoyak-koyak sedang menunggu dengan ngangaan mulut bergigi kuning. Warna-warna lain pun tak mau ketinggalan bersinergi menjadi pelangi yang mengukir senyuman di hati-hati yang bening.

Lukisan ini kemudian tercoret warna-warna keangkuhan. Sang darah biru menginjak-injak budak berkulit hitam. Keringat bening mengucur deras melebihi sebulat emas. Sesuatu dapat ditukar dengan seliter merah.
Lukisan ini kemudian tercoreng warna-warni penipuan. Sang pink mengambil alih semua cinta-cinta dalam dua warna yang bergentayangan. Semua warna terkagum denga pink dan merusak kesucian hati-hati yang bening. Bukan warna putih lagi yang terbentuk jika warna-warni itu berpadu, tapi hitam yang mengkelam sampai ke ujung-ujungnya.

Lukisan ini kemudian termoreng warna-warni kenistaan. Sang bintang putih kini terpaksa menemani geliat lampu warna-warni malam. Hitam, merah, biru, dan kuning di pajang pada tempat-tempat yang tidak lagi bernilai. Ibarat penjaja permen beraneka warna menjajakan permennya dengan harga murah.
Lukisan ini kemudian tertumpah warna-warni ketidakpercayaan. Putihnya kejujuran mulai berpendar demi si bulat emas. Merahnya pembelaan harus dihargai berlembar-lembar hijau. Semua mata tertuang warna merah curiga melihat segala warna menjadi ancaman.

Semakin lama lukisan itu semakin abstrak. Abstrak yang tak dapat dimengerti. Abstrak it uterus dibanjiri warna-warni yang membuatnya menjadi hitam, pekat, tebal, dan menembus batas-batas kertas lukisan. Dan ketika itu sang pelukis menyentuhkan tinta terakhir yang membuat kertas itu bolong.

Lukisan itu menjadi hancur. Mereka baru tersadar bahwa mereka telah merusak lukisan indah kreasi Tuhannya. Tapi, sudah terlanjur. Tinta terakhir itu telah merambat ke penjuru-penjuru kertas dan merusak lukisan itu sejadi-jadinya. Tinta terakhir itu mengakhiri segalanya.


0 komentar:

Posting Komentar

 
Imam Mudji's blog © 2011 GONJOL WEB DESIGN. Supported by Gonjol's Themes ByKak Imam