Tampilkan postingan dengan label Wisata Religi Kota Tuban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Religi Kota Tuban. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Maret 2012

Kwan Sing Bio Klenteng Terunik dan Terbesar Di Asia Tenggara

0 komentar
Megah dan kaya keunikan, kesan ini jelas tergambar di klenteng Kwan Sing Bio, yang berdiri gagah di pesisir pantai utara Tuban. Selain luas bangunan yang luar biasa, ikon yang digunakan sebagai penghias gapura juga berbeda dari bangunan klenteng pada umumnya.


Kelenteng yang didirikan pada tahun 1928 ini, konon kelenteng ini adalah peniggalan dari para pedagang etnis tionghoa berabad-abad yang lalu yang menyebarkan agama lewat perdagangan.

Klenteng Kwan Sing Bio terletak di sebelah barat kota Tuban. Tempat ibadah umat Tri Dharma yang dikenal dengan sebutan Klenteng Kepiting itu menjadi salah satu trade mark. Menurut cerita, pada awalnya tanah yang digunakan sebagai lokasi bangunan klenteng adalah rawa-rawa yang penuh kepiting.

Tanaman liar yang ada dirawa-rawa tersebut kemudian dibabat dan tanahnya diratakan. Tumpukan kayu hasil babatan itu yang ditata menjadi klenteng. Kepiting liar yang merupakan mahkluk hidup asli wilayah itu dijadikan simbol ciri khas Klenteng Tri Dharma Kwan Sing Bio.

Berdiri di atas tanah seluas lebih dari dua hektar, Klenteng Kwan Sing Bio dibagi menjadi beberapa bagian. Di bagian depan terletak sebuah tempat sembahyangan (altar utama), yang juga merupakan bangunan tertua. Di sebelah kiri altar utama berdiri tempat pembelajaran bahasa Mandarin, peramal Jiamsi, kantor secretariat, dan tempat penjualan perlengkapan sembahyang.

Di bagian belakang terdapat dapur dan Hall (gedung serba guna) yang sekaligus menjadi tempat menginap bagi pengunjung, bersebelahan dengan taman berarsitektur Thiongkok, plus danau kecil dan jembatan yang melintas di atasnya yang sekaligus berfungsi sebagai panggung pertunjukan acara saat peringatan ulang tahun klenteng.

Ajaran Tri Dharma mempercayai kepiting sebagai hewan yang dipilih dewa untuk melindungi mereka yang berada di Tuban. Penghormatan kepada mahkluk laut seperti kepiting ditunjukkan dengan tidak menyajikan kepiting sebagai sesembahan kepada dewa umat Konghucu, Tao dan Budha. Keunikan lain menyangkut kepiting, tampak dari bentuk kota Tuban yang mirip dengan bentuk Kepiting dengan dua capit. Capit Pertama letaknya di Klenteng Tjoe Ling Kiong (Dewi Laut) di Alun-Alun Kota, capit kedua di Klenteng Kwan Sing Bio. Di dua klenteng itu, juga terdapat dua mata air tawar. Hal yang unik karena keduanya terletak di wilayah pantai.

Memperkuat sisi releigiusnya, Kwan Sing Bio diperkaya dengan patung-patung yang sangat apik. Patung-patung ini dibangun untuk menghormati nenek moyang dan dewa-dewa masyarakat Tionghoa. Di sisi yang lain, tepatnya di di gedung serba guna, ada relief indah yang berkisah tentang sembilan dewa. Lalu di bagian lain, ada relief tentang legenda-legenda populer Tiong Hoa yang kaya dengan nilai filsafat

Namun, Klenteng ini hanya menyimpan satu patung Dewa Tiongkok, atau yang biasa disebut Kiem Sien, yakni Dewa Yang Mulia Sing Tee Koen, dewa pelindung dan setia. Ini berbeda dengan klenteng lain, yang biasanya memiliki banyak patung Kiem Sien. Patung dewa Sing Tee Koen ini dibawa seorang umat langsung dari tanah Tiongkok.

Dengan segenap atribut yang dimiliki, Kwan Sing Bio diyakini sebagai klenteng terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, kleneteng ini juga dipercaya sebagai yang paling unik. satu yang palng berbeda di klenteng ini adalah penggunaan ikon kepiting raksasa di gerbangnya.

Kwan Sing Bio setiap hari, sangat ramai dikunjungi wisatawan baik domestik maupun wisatawan asing. Mereka yang datang ke kelenteng bukan hanya berasal dari kalangan Kong Hu Chu melainkan umat muslim, Kristen, dan lainnya. Tujuan wisatawan juga berbeda-beda, ada yang datang khusus untuk bersembahyang, ada yang kededar ingin melihat-lihat, ada juga yang datang untuk mencari peruntungan dan mohon petunjuk.
Meski belum ada rujukan pasti tentang eksistensi Kwan Sing Bio, namun sumber di klenteng ini meyakini, Kwan Sing Bio merupakan klenteng tertua di Indonesia.

Yah, Kwan Sing Bio mungkin sebagian dari anda sudah tidak asing lagi dengan nama ini. Kelenteng yang terletak pada jalur pantura kabupaten Tuban ini sangatlah cantik dan menarik.
Namun bagi anda yang mungkin baru kali ini mendengar atau membaca tentang klenteng  Kwan Sing Bio dan ingin mengunjungi tempat ini tetapi binggung karena lokasi anda yang jauh.  Anda tidak perlu binggung atau khawatir karena bagi pengunjung yang hendak bermalam kelenteng Kwan sing bio menyediakan tempat bermalam gratis yang mampu menampung ribuan pengunjung. Urusan makan juga gampang, kelenteng ini menyajikan makanan gratis setiap harinya.

Atau jika anda menginginkan sajian yang berbeda, Klenteng Kwan Sing Bio bersanding persis dengan sebuah Coffee and Steak House milik Hotel Mustika Tuban yang menyajikan aneka menu kopi, teh,  Steak, cake dan makanan khas lainnya. Disisi lain luar klenteng juga terdapat warung-warung tenda yang menyajikan masakan khas tuban denga harga yang sangat terjangkau.

Ketenaran kelenteng ini tidak perlu dipertanyakan lagi, dengan deretan lampu lampion, arca dewa hingga lilin yang terpasang seolah mampu membuktikannya. Beragam nama dan asal daerah pengunjung dapat kita lacak disitu. Disini anda bisa melihat lilin dengan ukuran sepelukan orang dewasa dengan tinggi menjulang hingga dua meter. Jadi sangatlah tidak sempurna apabila anda melewati kota tuban, tanpa mengunjungi wisata religi yang satu ini.
Read more...

Makam Sunan Bonang

2 komentar
Makam Sunan Bonang adalah salah satu ikon wisata religi kota Tuban. Makam yang terdapat di belakang masjid Agung sebelah barat alun-alun kota Tuban merupakan salah satu dari empat versi makam Sunan Bonang lainnya. Dari keempat versi lokasi memakaman Sunan Bonang yang banyak beredar di masyarakat. 

Makam yang terdapat di kelurahan Kutorejo Tuban adalah yang paling banyak di kunjungi peziarah, baik yang berasal dari dalam negeri atau turis asing.

Sunan Bonang atau Maulana Makdum Ibrahim nama yang diberikan oleh Sunan Ampel ayahnya. Beliau diduga lahir di daerah Bonang, Tuban, pada tahun 1465 M. Semasa kecil, Sunan Bonang mendapat pelajaran dari ayahnya, Sunan Ampel, dengan disiplin yang ketat.

Tahun meninggalnya sunan bonang sendiri belum diketahui secara pasti, namun ada dugaan kira-kira pada tahun 1525 M. Sampai saat ini ada empat lokasi yang oleh masyarakat diyakini sebagai makam Sunan Bonang. Selain yang di Tuban tempat lain yang juga dianggap sebagai tempat persemayaman Sunan Bonang, yaitu pulau Bawean di  Kabupaten Gresik, Desa Singkal di Kabupaten Kediri, dan di Desa Bonang, Lasem, Kabupaten Rembang Jawa Tengah.

Sebagaimana makam Walisongo lainnya, di komplek makam Sunan Bonang Juga pengunjung dilarang mengambil gambar. Seorang juru kunci akan setia mendampingi rombongan yang masuk ke dalam cungkup dan akan memperingatkan pengunjung yang mencoba mengambil gambar makam Sunan Bonang.

Hampir setiap hari, terutama pada hari-hari libur, makam Sunan Bonang selalu dipadati oleh ratusan bahkan ribuan peziarah. Bagi peziarah atau pengunjung yang membawa kendaraan sendiri (rombongan) telah disediakan terminal khusus untuk parkir kendaraan tersebut sehingga tidak menimbulkan kemacetan dan mengganggu lalu lintas jalan. Letak terminal ini kurang lebih 1 km dari lokasi makam atau 200 meter dari lokasi wisata Goa Akbar.

Selama mengunjungi makam Sunan Bonang peziarah juga dapat menyaksikan jejak penyebaran agama Islam khususnya yang dilakukan oleh Sunan Bonang. Beliau menyebarkan agama Islam di daerah Tuban dan sekitarnya. Dalam menyebarkan agama Islam pada Masyarakat (berdakwah) Sunan Bonang menempuh cara persuasif.

Menurut cerita sejarah, Sunan Bonang sering menggunakan media bonang (gamelan) salah satu jenis alat musik khas Jawa. Pada masa itu, jenis kesenian semacam wayang kulit dan tayub sangatlah digemari masyarakat. Melalui kesenian itulah, Sunan Bonang sedikit demi sedikit memasukkan nilai-nilai Islam sambil perlahan-lahan menghilangkan hal-hal yang menyimpang dari kesenian-kesenian tersebut.

Dengan pendekatan budaya lokal inilah sehingga menarik masyarakat sekitar untuk mengikuti ajakannya. Salah satunya dengan menciptakan tembang yang sampai saat ini masih banyak di lagukan oleh beberapa pelantun lagu-lagu religi adalah tembang Tamba Ati (penyembuh jiwa/hati) yang sampai kini masih populer.
Peninggalan Sunan Bonang di area makam tersebut salah satunya adalah sebuah masjid tua yang dinamakan masjid Astana dan dibangun oleh Sunan Bonang sendiri. Masjid ini, dulunya dipakai sebagai pusat dakwah oleh Beliau. Di depan masjid Astana, anda juga dapat menemukan peninggalan yang lain berupa tempat wudhu dari batu yang masih terawat sangat baik hingga saat ini.

Di komplek pekuburan Sunan Bonang ini, peziarah dapat memanfaatkan fasilitas yang ada, misalnya menggunakan masjid dan berandanya untuk melakukan shalat dan beristirahat, memanfaatkan tempat wudu dan kamar mandi untuk membersihkan diri, serta membeli suvenir yang dijajakan oleh kios-kios di sepanjang jalan menuju makam.

Ada satu hal unik terdapat di makam Sunan Bonang dan bisa dianggap sebagai kenang-kenangan dari beliau yakni sebuah Tasbih Biji Pisang. Tasbih ini berwarna hitam, dan merupakan untaian biji pisang. Menurut cerita biji Pisang tersebut asli telah terbentuk sedemikian dari buah pisang. Jadi, buah pisang tersebut saat dikupas, hanya berisi biji-biji tasbih tersebut dan tidak berdaging.

Makam Sunan Bonang terbuka bagi peziarah sejak pukul 08.00 WIB  hingga tengah malam. Dan jika anda telah sampai ke Sunan Bonang rugi rasanya jika anda tidak melengkapi kunjungan wisata anda. Karena tidak jauh dari lokasi Makam Sunan Bonang terdapat objek-objek wisata alam yang sangat menawan. Anda dapat menambah daftar tujuan wisata misalnya Goa Akbar yang terletak tepat di bawah Pasar Baru sekitar 200 meter dari alun-alun kota.


Read more...

Masjid Agung Tuban

1 komentar
Masjid yang berlokasi di kelurahan Kutarejo, kecamatan Tuban ini didrikan pada masa pemerintahan Adipati Raden Ario Tedjo (Syeh Abdurrahman), Bupati Tuban ke-7, dimana saat itu ialah awal permulaan pemerintahan Islam, beliau wafat pada tahun 1460 (abad ke-15). Namun secara pasti pendiri masjid ini tidak tercatat. Masjid agung tuban dahulu bernama masjid jami.


Masjid Agung dibangun untuk ke dua kali (direnovasi pertama)  pada tahun 1894 M pada masa pemerintahan Bupati Raden Tumenggung Kusumodigdo (Bupati Tuban ke 35).  Bangunan Masjid yang besar dan megah berdiri kokoh di sebelah barat alun-alun kota tuban menjadi kebanggaan masyarakat Tuban

Masjid yang letaknya berdekatan dengan makam sunan bonang ini memiliki keindahan wisata religi dengan gaya ala dongeng 1001 malam. Tak kalah dengan masjid-masjid terkenal di penjuru nusantara yang membuat kagum para wisatawan yang berkunjung di kota tuban. Dengan ornamen yang begitu indah, polesan yang begitu detail, tembok yang penuh ukiran membuat masjid ini menjadi salah satu masjid termegah di Jawa timur.

Masjid Agung Tuban  merupakan salah satu peniggalan sejarah kota tuban,banyak ajaran- ajaran islam yang disebarkan oleh sunan bonang  dilakukan di masjid ini. Masjid Astana itulah nama bangunan masjid kecil yang didirikan Sunan Bonang kala itu. Masjid ini kemudian berkembang menjadi tempat ibadah sekaligus tempat dilangsungkannya kegiatan belajar dan mengajar mengenai Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, bangunan masjid ini diperluas menjadi bangunan masjid yang dikenal sebagai Masjid Agung Tuban saat ini. Masjid Agung Tuban, yang dahulu bernama Masjid Jami, sempat mengalami beberapa kali renovasi.

Renovasi selanjutnya dilakukan tahun 1985, di mana bangunan masjid mengalami perluasan. direnovasi Masjid ini selesai pada tahun 2000 dan semakin dapat membuat kagum para wisatawan yang berkunjung di kota Tuban. Kemudian, di tahun 2004 dilakukan kembali renovasi terhadap bangunan Masjid Agung Tuban oleh pemerintah Kabupaten Tuban. Renovasi yang dilakukan kali ini meliputi pengembangan satu lantai menjadi tiga lantai, menambah sayap kiri dan kanannya dengan mengadopsi arsitektur bangunan berbagai masjid terkenal di dunia serta penambahan enam menara masjid dengan luas 3.565 meter persegi.

Apabila anda sedang berkunjung di kabupaten tuban sangatlah tidak lengkap apabila belum mengunjungi masjid yang satu ini. Apabila anda sedang melakukan perjalanan dinas dan kebetulan menginap di hotel mustika Tuban, anda cukup menempuh jarak sekitar 1,5 km  dari hotel mustika ke Masjid Agung Tuban.
Read more...
 
Imam Mudji's blog © 2011 GONJOL WEB DESIGN. Supported by Gonjol's Themes ByKak Imam