Rabu, 27 Juni 2012

Sejarah Ronggolawe di Tanah Tuban

0 komentar
Masyarakat Tuban tidak bisa dipisahkan dari legenda Ronggolawe dan Brandal Lokajaya. Legenda itu begitu kental dan menyejarah sehingga sedikit banyak mewarnai pembentukan sistem nilai pribadi dan sosial. Elite politik sering kali memanfaatkan untuk kepentingan dan pencapaian target politiknya.
 
Legenda Ronggolawe versi masyarakat Tuban berbeda dengan naskah sejarah seperti ditulis kitab Pararaton maupun Kidung Ranggolawe. Menurut Kidung Ranggolawe, tindakan ngraman (berontak) Ronggolawe dilancarkan setelah tuntutannya agar pengangkatan Empu Nambi sebagai Patih Amangkubumi Majapahit dianulir.
 
Rudapaksa politik yang menurut Pararaton terjadi pada tahun 1295 itu berakhir tragis. Raja Kertarajasa Jayawardhana menolak tuntutan Ronggolawe tersebut. Pasukan dikirim untuk menyerang Ranggolawe. Akhirnya Ronggolawe diperdayai untuk duel di Sungai Tambak Beras. Dia pun tewas secara mengenaskan oleh Mahisa Anabrang.
 
Bagi masyarakat Tuban, Ronggolawe bukanlah pemberontak, tetapi pahlawan keadilan. Sikapnya memprotes pengangkatan Nambi, karena figur Nambi kurang tepat memangku jabatan setinggi itu.
Nambi tidak begitu besar jasanya terhadap Majapahit. Masih banyak orang lain yang lebih tepat seperti Lembu Sora, Dyah Singlar, Arya Adikara, dan tentunya dirinya sendiri.
Ronggolawe layak menganggap dirinya pantas memangku jabatan itu. Anak Bupati Sumenep Arya Wiraraja ini besar jasanya terhadap Majapahit. Ayahnya yang melindungi Kertarajasa Jayawardhana ketika melarikan diri dari kejaran Jayakatwang setelah Kerajaan Singsari jatuh (Kertarajasa adalah menantu Kertanegara, Raja Singasari terakhir).
 
Ronggolawe ikut membuka Hutan Tarik yang kelak menjadi Kerajaan Majapahit. Dia juga ikut mengusir pasukan Tartar maupun menumpas pasukan Jayakatwang.
Bagi masyarakat Tuban, Ronggolawe adalah korban konspirasi politik tingkat tinggi. Penyusun skenario sekaligus sutradara konspirasi politik itu adalah Mahapati, seorang pembesar yang berambisi menjadi patih amangkubumi.
Melalui skenarionya, Lembu Sora, paman Ronggolawe yang membunuh Mahisa Anabrang akhirnya dibunuh oleh pasukan Nambi melalui tipu daya yang canggih.
Empu Nambi sendiri mati dengan tragis. Dia diserang pasukan Majapahit pada saat pemerintahan Raja Jayanegara karena bisikan Mahapati bahwa Nambi ngraman. Kidung Sorandaka mencatat, Mahapati menggapai ambisinya dan dilantik menjadi patih amangkubumi tahun 1316.
Read more...

Sabtu, 31 Maret 2012

Karapan Sapi Pesta Rakyat Madura

2 komentar
Karapan Sapi, pertama mendengar kalimat itu, tanpa pikir panjang pun pikiran kita langsung tertuju kepada suatu tempat di sebelah timur laut Jawa Timur. karena di sana lah asal muasal dan lahirnya karapan sapi. pulau madura sebagai tempat asal dan perkembangan budaya karapan sapi madura ini.
awal mula acara yang lebih bersifat ke adat istiadatan tersebut secara tertulis tidak ada yang begitu jelas secara detail.  akan tetapi jika di lihat dari sumber lisan,menurut berita ada beberapa versi sumber di mana karapan sapi ini bisa muncul ke permukaan masyarakat madura hingga sampai menjadi budaya khas madura yang kita kenal saat ini.

Asal muasal sejarah karapan sapi madura, acara  karapan sapi ini muncul karena untuk penyebaran agama Islam di tanah Maduran. sumber lain juga mengatakan, karapan sapi ini sudah ada dan di kenal sejak zaman dulu secara turun temurun. selain itu pula dapat kita ketahui bahwa Kerapan Sapi pertama kali dipopulerkan oleh Pangeran Katandur yang berasal dari Pulau Sapudi, Sumenep pada abad 13. yang awalnya hanya memanfaatkan tenaga sapi-sapi tersebut sebagai pengolah sawah semata. karena di anggap mempunyai hasil yang bagus, dengan cara menggunakan sapi untuk membajak tanah-tanahnya sehingga tumbuh subur. karapan sapi pun mulai populer dan berkembang di seluruh tanah madura.

Asal Usul Karapan Sapi Madura

karapan sapi hingga kini menjadi salah satu tradisi khas madura yang di adakan setiap bulan agustus dan september, acara karapan sapi biasanya di adakan di beberapa tempat di madura. Selain itu acara karapan sapi di sebut juga sebagai pertandingan bisa juga adu gengsi masyarakat madura yang nantinya acara tersebut berujung di babak final adu cepat pada minggu akhir di bulan tersebut (akhir September atau Oktober) jika anda ingin menyaksikannya anda bisa langsung menuju ke kota Pamekasan-madura. acara adat karapan sapi ini di nilai cukup bergengsi karena para peserta saling memperebutkan Piala Bergilir Presiden dalam pertandingannya.

Karapan Sapi Madura
lantas apakah karapan sapi tersebut, apakah hanya adu balap liar yang di tunggangi dan yang cepat menjadi juara! Karapan sapi tidak bias di katakana begitu saja, seperti yang harus kita ketahui, acara karapan sapi bukan hanya merupakan pesta rakyat yang di gelar secara rutin dari tahun ke tahun semata bagi masyarakat madura, karapan sapi juga tidak bisa di katakan hanya sebagai tradisi yang dilaksanakan sejak dulu kala yang di lakukan secara terus menerus dari generasi ke generasi berikutnya seperti yang ada saat ini. Karapan sapi adalah sebuah prestise kebanggaan tersendiri yang akan mengangkat martabat di bagi masyarakat madura. itulah sering juga karapan sapi di sebut juga sebagai Ajang Adu Gengsi Rakyat Madura.
karapan sapi Karapan Sapi, Pesta Rakyat Khas Madura

Budaya adat karapan sapi, dalam ajang perlombaan tak hanya satu, dua cara dari banyaknya para peserta yang mengikuti perlombaan ini agar sapinya berlari dengan cepat dan akhirnya menjadi pemenang. biasanya mereka sampai melukai sapi-sapi tersebut di bagian tubuh belakang, dengan harapan sapi sapinya dapat lari dengan kencang. perlu anda ketahui juga,  tindakan melukai sapi bukanlah budaya asli dari Karapan sapi yang selama ini anda ketahui. hal semacam itu memang ada dan bahkan di setiap kegiatan macam apa pun dan sulit di ubah oleh kebanyakan masyarakat. tak luput dari peringatan pemerintah pun agar mereka tidak melakukan dan menyiksa sapi-sapi yang di ikutkan dalam ajang tersebut.

Macam Jenis Karapan Sapi Di Madura

Ternyata karapan sapi juga mempunyai beberapa macam, tidak hanya satu macam saja, yang biasa di tampilkan ada beberapa macamnya. Yuk kita simak!

1. Kerap jar-ajaran (kerapan latihan)
Kerapan jar-jaran adalah kerapan yang dilakukan hanya untuk melatih sapi-sapi pacuan sebelum diturunkan pada perlombaan yang sebenarnya.

2. Kerap Keni’ (kerapan kecil)
Kerapan Keni biasanya pesertanya hanya di ikuti oleh satu kecamatan saja. Karena kerap keni ini tergolong dalam perlombaan kecil jarak tempuhnya pun juga juga tidak terlalu jauh, sekitar 110 meter dan diikuti oleh sapi-sapi kecil yang belum terlatih.

3. Kerap Raja (kerapan besar)
Perlombaan yang sering juga disebut kerap Negara, perlombaan ini biasanya diadakan di ibukota kabupaten pada hari Minggu. Panjang lintasan balapnya sekitar 120 meter dan pesertanya adalah para juara kerap keni.

4. Kerap Onjangan (kerapan undangan)
Kerap onjangan adalah pacuan khusus yang para pesertanya adalah undangan dari suatu kabupaten yang menyelenggarakannya. Kerapan ini biasanya diadakan untuk memperingati hari-hari besar tertentu.

5. Kerap Karesidenen (kerapan tingkat karesidenan/ gubeng)
Kerap Karesidenen adalah kerapan besar yang diikuti oleh juara-juara kerap dari empat kabupaten di Madura. Kerap karesidenan diadakan di Kota Pamekasan, Kerap Karesidenen merupakan acara puncak untuk mengakhiri musim kerapan.

Karapan Sapi di HUT 2 Plat-M
indonesia memang di kenal sebagai negara yang kaya akan keragaman budaya. Karapan sapi salah satunya, kegiatan adat budaya ini di nilai cukup menarik oleh sebagian masyarakat dalam maupun luar madura. karena mempunyai ciri khas yang unik. hal semacam ini perlu juga dukungan dari pemerintah swasta bidang pariwisata. agar selain unik dan menghibur juga sebagai salah satu icon suatu daerah. sehingga nantinya akan memperkokoh seluruh kedaulatan tanah air.

Acara karapan sapi yang selalu menjadi daya tarik, ternyata tak hanya masyarakat madura saja. hal tersebut cukup terbukti dari banyaknya penonton yang mencapai ribuan setiap kali acara karapan sapi ini di gelar, tak hanya itu banyak juga turis asing yang juga ikut penasaran menyaksikan acara adat khas madura karapan sapi tersebut. sehingga di situlah salah satu ajang bertemunya masyarakat madura serta dapat memupuk rasa persaudaraan mereka. karena dalam acara ini berbagai kalangan masyarakat ikut berbaur jadi satu dalam lingkup sportifitas dan kegembiraan dalam ajang pesta masyarakat madura karapan sapi.
Dalam acara ini pula Plat-M, sebagai salah satu blogger khas di pulau madura bertempatan dengan HUT Plat-M yang kedua. turut mempromosikan adat budaya yang ada di daerahnya.
Read more...

Upacara Adat Naik Dango

0 komentar
“Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata…!” Kalimat tersebut bermakna, “Adil dan toleran terhadap sesame, bercermin ke surge dan setiap tarikan napas harus patuh terhadap Tuhan. Setiap ada yang mengucapkan salam tersebut, orang harus menjawab, arus, arus, arus yang berarti mengiyakan dan mengharapkan salam itu akan terpenuhi dalam kehidupan semua orang.

Salam tersebut kerap dijumpai dalam setiap upacara adat Naik Dango yang merupakan sebuah upacara untuk menghaturkan rasa syukur terhadap Nek Jubata atau Sang Pencipta atas berkah yang diberikannya berupa hasil panen (padi) yang berlimpah. Tidak hanya itu, upacara yang biasa dilakukan oleh masyarakat adat Dayak Kanayatn yang mendiami Kabupaten Landak, Kabupaten Pontianak, hingga Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat tersebut diselengarakan secara rutin setiap tahun.

Upacara Naik Dango memiliki empat kegiatan utama. Yang pertama berjuluk Batutuk atau kegiatan menumbuk padi dalam lesung untuk mendapatkan beras, tepung beras (sunguh) atau beras ketan (poe’) untuk persiapan ritual makan bersama atau sesaji. Kemudian disusul dengan acara Matik alias mengucapkan doa untuk menyampaikan maksud dan niatan kepada Nek Jubata agar member restu pada pelaksanaan upacara Naik Dango. Di sini disajikan juga perangkat adat berupa Tumpi Sunguh (cucur putih), Solekng Poe” (ruas bambu berisikan ketan masak), hingga Sirih Masak (daun sirih, pinang siap kunyah dan gulungan rokok daun nipah)

Perhelatan Naik Dango memiliki inti upacara berupa Nyangahathn alias melantunkan doa dan mantra-mantra oleh Panyangahatn (imam adat) untuk memanggil semangat padi, mengucapkan syukur kepada Tuhan atas anugerah yang diberikannya berupa panen padi sampai memohon ampun kepada Nek Jubata atas dosa dan kesalahan dan meminta agar diberikan kesejahteraan pada tahun yang akan datang.
Selanjutnya para peserta upacara akan saling mengunjungi rumah kerabat dan tetangga dan disajikan kudapan atau penganan berupa poe atau salikat (lemang atau pulut yang terbuat dari beras ketan yang ditanak di dalam batang bambu), tumpi cucur (campuran tepung terigu dan tepung beras yang diaduk dengan gula merah dan digoreng), Bontonkng (berbahan baku beras sunguh/beras lading-Bontonkng Sumuh dan yang berbahan dasar beras pulut ladang alias Bontonkng Poe’)

Naik Dango sendiri bermula dari mitos asal mula padi mashyur di antara orang Dayak Kalimantan Barat lewat kisah Ne Baruankng Kulup. Cerita tersebut diawali dengan asal mula padi milik Jubata di Gunung Bawang yang dicuri oleh burung pipit. Padi tersebut kemudian jatuh ke tangan Ne Jaek yang sedang mengayau alias memenggal. Akibat hanya membawa setangkai padi dan bukan kepala, maka Ne Jaek pun menuai ejekan.
Keteguhan Ne Jaek yang ingin membudidayakan padi tersebut menyebabkan pertentangan di sukunya yang berimbas pada diusirnya Nenek Jaek dari kampungnya. Dalam pengembaraannya, dia bertemu dengan Jubata dan lalu menikah. Perkawinan tersebut menghasilkan Ne Baruankng Kulup yang akhirnya membawa padi kepada “Talino” (manusia) akibat senang turun ke dunia untuk bermain Gasing. Hal tersebut membuat Ne Baruankang Kulup diusir dari Gunung Bawang dan kemudian menikah dengan manusia. Dial ah yang mengenalkan padi (beras) untuk menjadi makanan utama manusia menggantikan Kulat (jamur).

Pada hakekatnya, upacara Naik Dango memiliki tiga aspek. Aspek tersebut antara lain aspek kehidupan masyarakat agraris di mana masyarakat Dayak mengungkapkan tradisi bercocok tanam dengan padi sebagai panen utamanya. Aspek kedua adalah aspek kehidupan religious. Lewat Naik Dango, masyarakat Dayak mengekspresikan rasa syukur, terima kasih dan hormat kepada Tuhan atas panen yang mereka peroleh. Aspek yang terakhir adalah aspek kekeluargaan, solidaritas dan persatuan. Penyelenggaraan Naik Dango secara serentak dalam wilayah kesatuan hukum adat (binua) merupakan sebuah kegiatan yang bertujuan untuk mempererat silaturahmi antar keluarga khususnya dan masyarakat Dayak umumnya.
Read more...

Songket Palembang Yang Menawan

0 komentar
Sejarah dari kota Pempek alias Palembang tidak bisa dipisahkan dari legenda Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam. Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan maritim yang sangat kuat di Pulau Sumatera dengan daerah kekuasaan mulai dari Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi pada masa jayanya sekitar tahun 683 Masehi. Kerajaan yang dalam bahasa sansekerta berarti bercahaya (sri) dan kemenangan (wijaya) tersebut menjadi cikal bakal kota Palembang.

Salah satu warisan budaya dari kerajaan ini adalah wastra tenun bernama songket. Bukti-bukti songket telah ada sejak zaman Sriwijaya bisa disimak dari pakaian yang menyelimuti arca-arca di kompleks percandian Tanah Abang, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Kain yang dirangkai dari berbagai jenis benang termasuk benang emas ini menurut sebagian orang bermula dari pola perdagangan antara pedagang asal Tiongkok yang menghadirkan benang sutera dengan pedagang India yang membawa benang emas dan perak. Nah, benang-benang tersebut ditenun dengan pola yang rumit yang diuntai lewat jarum leper pada sebuah alat tenun bingkai Melayu.

Kemampuan membuat Songket tradisional di Palembang biasanya diwariskan secara turun-temurun.Sewet Songket merupakan kain yang kerap digunakan oleh pelapis pakaian wanita di bagian bawah yang dihiasi dengan selendang berteman dengan baju kurung. Dalam upacara adat atau selebrasi pernikahan, pengantin biasanya menggunakan Songket lengkap dengan Aesan Gede (kebesaran), Aesan Pengganggon (Paksangko), Selendang Mantri, Aesan Gandek dan yang lainnya.  Secara kualitas, Songket Palembang merupakan songket terbaik di Indonesia. Bahkan, songket ini disematkan julukan sebagai “Ratu Segala Kain.”

Pada songket, teknik dan jenis serta kualitas kain yang ditenun dikenal dengan istilah Songket Limar dan Lepus. Lepus adalah kain songket yang kainnya terdiri dari cukitan alias sulaman benang emas berkualitas tinggi yang biasanya didatangkan dari Cina. Bahkan, kadakala benang tersebut diambil dari kain songket berusia ratusan tahun yang akibat umur membuat kainnya menjadi rapuh. Kualitas jenis ini merupakan kualitas tertinggi dengan harga jual yang sangat mahal.

Sementara Limar lebih mengarah kepada teknik pembuatannya. Menurut budayawan Inggris yang hidup di Indonesia pada era colonial, songket jenis ini merupakan kain yang memadukan warna merah, kuning dan hijau dengan pola yang terinspirasi dari buah limau. Sementara pendapat lain menyatakan bahwa nama limar diambil dari bulatan-bulatan yang berasal dari percikan yang menyerupai tetesan jeruk peras.

Cara pemakaian songket pada pria atau wanita memiliki perbedaan mendasar. Kain songket untuk pria yang kerap disebut Rumpak (bumpak) memiliki motif yang tidak penuh dengan tumpal (kepala kain) berada di belakang badan. Songket tersebut dipakai mulai dari pinggul ke bawah sampai di bagian bawah lutut (untuk pria yang telah menikah) dan menggantung di atas lutut (untuk pria yang belum menikah). Sedangkan untuk wanita, tumpal (kepala kain) wajib berada di depan dengan posisi dari pinggul hingga mata kaki.
Read more...

FAHOMBO, Tradisi lompat batu suku Nias

0 komentar
Tradisi lompat batu suku Nias, atau yang biasa disebut fahombo batu adalah tradisi asli suku Nias yang sudah dikenal di Indonesia maupun mancanegara. Namun, tradisi lompat batu ini tidak terdapat di semua kepulauan Nias. Fahombo batu ini hanya bisa ditemukan di kepulauan Nias bagian Selatan, tepatnya di bagian Teluk Dalam dan hanya dilakukan oleh laki – laki. Awalnya tradisi ini untuk berlatih perang para pemuda suku Nias dikarenakan nenek moyang terdahulu sering berperang antarsuku. Jika ada seorang pemuda yang berhasil melewati batu ini sang pemuda kelak akan menjadi pemuda pembela kampungnya ketika ada konflik dengan warga desa lain.

Kemampuan melompat batu dihubungkan dengan kepercayaan lama. Seseorang yang baru belajar melompat batu, ia terlebih dahulu memohon restu dan meniati roh-roh para pelompat batu yang telah meninggal. Ia harus memohon izin kepada arwah para leluhur yang sering melompati batu tersebut. Tujuanya untuk menghindari kecelakaan atau bencana bagi para pelompat ketika sedang mengudara, lalu menjatuhkan diri ke tanah. Sebab banyak juga pelompat yang gagal dan mendapat kecelakaan.

Ketinggian batu ini mencapai 2 meter dengan ketebalan 40 cm. Tradisi ini menjadi ajang kesempatan untuk pemuda Nias membuktikan bahwa dirinya sudah pantas dianggap dewasa dan matang secara fisik. Pemuda yang ingin melakukan Fahombo batu ini diharuskan memakai pakaian adat setempat.
Para pemuda masyarakat suku Nias berfikir bahwa lompat batu ini sangat berharga. Maka dari itu jika sang pemuda berhasil melompati batu pada kali pertama bukan saja menjadi kebanggaan dirinya sendiri tapi juga bagi keluarganya. Biasanya jika ada pemuda yang baru pertama kali mampu melompati batu ini keluarga mereka akan menyembelih beberapa ekor ternak sebagai wujud syukur atas keberhasilan anaknya

Diperlukan latihan yang cukup jika pemuda suku Nias ingin melakukan Fahombo batu. Biasanya pada umur 7-12 tahun atau sesuai dengan pertumbuhannya, anak laki-laki biasanya bermain dengan lompat tali. Uniknya, meski sudah latihan keras tidak semua pemuda pada akhirnya berhasil melakukan lompatan tersebut.
Kemudian, kenapa pemuda yang mampu melompati batu ini akan dipilih menjadi ksatria kampungnya? Karena ketika terjadi peperangan antar kampung maka para prajurit yang menyerang harus mempunyai keahlian melompat untuk menyelamatkan diri. Mengingat di setiap kampung wilayah Teluk Dalam rata-rata dikelilingi oleh pagar dan benteng desa.

Oleh karena itu ketika tradisi berburu kepala orang atau dalam sebutan mereka mangaih’g dijalankan, mereka ketika melarikan diri harus mampu melompat pagar atau benteng desa sasaran yang telah dibangun dari batu, bambu atau dari pohon supaya tidak terperangkap di daerah musuh. Itu juga sebabnya desa-desa didirikan di atas bukit atau gunung supaya musuh tidak gampang masuk dan tidak cepat melarikan diri.
Para pemuda yang kembali dengan sukses dalam misi penyerangan desa lain, akan menjadi pahlawan di desanya. Ketika mereka tiba di kampung, dekat gerbang desa yang dinamakan ‘bawagöli,’ mereka berarak dan berteriak menyanyikan lagu kemenangan.
Read more...

Tradisi Kololi Kie, Ritual Penghormatan Gunung Gamalama

0 komentar
Ribuan suku yang mendiami bumi pertiwi membuat Indonesia kaya akan kebudayaan. Biasanya tradisi di masing-masing kebudayaan sangat berbeda tergantung daerah dan letak geografisnya. Kebudayaan dan tradisi masyarakat yang tinggal di pegunungan memiliki perbedaan disbanding dengan masyarakkat yang hidup di pinggir laut. Namun apa jadinya jika ritual adat berupa penghormatan terhadap gunung berapi dilaksanakan melalui laut? Tradisi tersebut hanya bisa ditemui di Kololi Kie.

Ritual penghormatan terhadap gunung yang telah menjadi sumber kehidupan masyarakat yang hidup dan tinggal di lerengnya memang cukup unik. Jika biasanya di Pulau Jawa, masyarakat hanya berdoa dan mengumpulkan sajen dan di lempar ke tengah kawah seperti yang terjadi pada sedekah gunung di Merapi atau pemberian Ongkek-Ongkek di Gunung Bromo, maka di Kololi Kie, masyarakat Ternate akan mengelilingi Gunung Gamalama melalui rute laut dan darat.

Kololi Kie berasal dari bahas asli Ternate, yaitu “Kololi” yang berarti mengelilingi atau mengitari dan kata “Kie” yang berarti gunung, pulau, atau daratan. Jadi jika diartikan seluruhnya Kololi Kie adalah kegiatan yang mengitari atau mengelilingi gunung. Tradisi ini sudah dilakukan masyarakat Ternate sejak ratusan tahun lalu. Biasanya tradisi Kololi Kie digabung bersama tradisi ritual “Fere Kie”. Tradisi Fere Kie ini adalah ritual naik ke puncak Gunung Gamalama untuk berziarah kepada leluhur. Ada dua jalur untuk melakukan tradisi ini. Jalur pertama melalui laut (Kololi kie toma ngolo) dan jalur kedua melalui darat (Kololi kie toma nyiha/nyiho). Dalam perjalanannya, setiap moda transportasi yang digunakan dilengkap dengan alat musik tradisional.

Biasanya rombongan akan berhenti di tiga tempat untuk menabur bunga dan memanjatkan doa.
Ada beberapa tujuan masyarakat Ternate melakukan tradisi ini selain untuk menghormati Gunung Gamalama. Yang pertama adalah niat perorangan yang biasanya dilakukan untuk berdoa agar mendapatkan cita-cita dan mengucap rasa syukur jika apa yang diharapkan tercapai. Kemudian yang kedua adalah niat suatu kelompok yang dilakukan untuk berziarah kepada leluhur dan para sufi. Ritual adat ini biasanya dilakukan apabila kerabat atau keluarga ataupun kelompok yang hendak mendirikan rumah, hendak panen rempah-rempah atau mereka yang selamat dari malapetaka. Kemudian yang ketiga adalah hajatan besar Kesultanan Ternate yang akan dilakukan secara besar-besaran dan sangat meriah terutama di sepanjang rute yang dilaluinya lewat laut.

Photo by: ternate.wordpress.com
Read more...

Yospan, Tari Pergaulan Tanah Papua

0 komentar
Selain terkenal dengan panorama alamnya yang masih asri, Papua juga termashur memiliki kebudayaan yang belum lekang dimakan arus globalisasi. Dari segudang budaya dan tradisi yang dimiliki oleh propinsi yang memiliki wilayah paling luas di bumi pertiwi ini punya banyak sekali jenis tari-tarian rakyat. Semisal tarian pergaulan yang mereka juluki sebagai Yospan. Yospan sendiri merupakan perpanjangan dari kata Yosim Pancar. Alias harmonisasi dari dua tarian rakyat Papua, Yosim dan Pancar.

Tarian Yosim adalah tarian tua yang mirip dengan poloneis dari dansa Barat yang berasal dari daerah Sarmi, kabupaten di pesisir utara Papua. Ada juga sumber yang mengatakan bahwa Yosim berasal dari wilayah teluk Saireri (Serui, Waropen).
Tari Yosim pancar mulai berkembang saat pesawat-pesawat bermesin jet mulai mendaratkan rodanya di Biak sekitar 1960 an saat terjadi konflik antara Kerajaan Belanda dengan Pemerintah Indonesia. Pada masa itu, banyak pesawat-pesawat tempur MiG buatan Rusia yang dipacu oleh pilot-pilot Indonesia terbang di atas langit Biak tepatnya di atas Bandara Frans Kaisiepo sambil melakukan gerakan-gerakan aerobatik. Nah, gerakan-gerakan inilah yang ditiru oleh para penari Yopan.

Tarian Yosim Pancar memiliki dua regu dalam penampilannya, Regu Musisi dan Regu Penari. Regu musisi memainkan alat musik untuk mengiringi penari, alat musik yang dimainkannya seperti Gitar, Ukulele, Tifa, dan Bass Akustik. Ukulele, tifa dan Stem Bass biasanya dibuat sendiri. Seseorang yang sudah mahir bermain Stem Bass terkadang dapat bermain dengan telapak kaki yang biasanya alat musik ini dimainkan oleh jari dan telapak tangan.

Penari Yospan lebih dari satu orang dengan gerakan dasar yang penuh semangat, dinamik dan menarik, Contoh gerakan yang terkenal adalah Gale-gale, Jef, Pacul Tiga, Seka dan lain-lain. Kemudian hal lainnya dalam tarian ini yang perlu anda ketahui adalah keunikan pakaian, dan aksesorisnya. Warna dan jenis pakaian yang digunakan masing-masing grup tari Yospan berbeda-beda, namun ciri khas untuk aksesori dalam semua tarian Papua hampir sama.
Read more...

Tradisi Telinga Panjang Suku Dayak

0 komentar
Bumi pertiwi telah tenar sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri atas 17.504 pulau besar dan kecil yang 6.000 diantaranya merupakan pulau tidak berpenghuni. Seluruh pulau-pulau tersebut didiami oleh ribuan suku yang memiliki akar budaya dan tradisi serta adat istiadat yang berbeda. Inilah yang menyebabkan Indonesia tidak hanya memiliki kekayaan alam dan hasil bumi, namun juga punya keberagaman budaya. Dari sekian banyak tradisi dan adat istiadat tersebut, masing-masing memiliki perbedaan dan keunikan tersendiri.
Misalnya budaya dan tradisi Suku Dayak. Suku yang hidup di Pulau Borneo ini selain punya seni tato juga memiliki tradisi telinga panjang yang hampir punah seiring dengan arus globalisasi dan perkembangan jaman.

Jika masih ada yang mempertahankannya, itu pun tinggal segelintir orang Dayak berusia lanjut.
Alasannya, lantaran generasi muda suku Dayak merasa malu memiliki daun telinga yang panjang dan kerap diolok-olok saat mereka bertandang ke kota. Selain itu, trend di ranah fashion juga cukup berpengaruh untuk meredam dan perlahan menghilangkan tradisi tersebut. Biasanya mereka yang bertelinga panjang sengaja memotong ujung daun telinganya lewat sebuah operasi kecil.
Namun tidak semua sub suku Dayak di Pulau Kalimantan punya tradisi ini. Hanya beberapa kelompok saja yang mengenal budaya telinga panjang, itupun yang mendiami wilayah pedalaman. Seperti masyarakat Dayak Iban, Dayak Kayaan, Dayak Taman dan Dayak Punan. Semisal Suku Dayak Kayaan mengenal tradisi ini dengan sebutan Telingaan Aruu yang dimulai saat seseorang masih bayi dan hanya dilakukan oleh kalangan bangsawan.

Setelah luka bekas tindikan mengering, kemudian di pasang benang yang lalu diganti oleh kayu sehingga lubang kian lama makin membesar. Prosesi penindikan telinga ini dikenal dengan sebutan Mucuk Penikng. Anting akan ditambahkan satu persatu ke dalam telinga yang lama kelamaan akan mebuat lubang semakin membesar dan memanjang.

Berbeda dengan Suku Dayak Kayaan, tradisi telinga panjang di Suku Dayak Iban tidak dilakukan dengan member pemberat, hamper serupa dengan tradisi di Suku Dayak Taman. Menurut Guru Besar Hukum Adat Universitas Tanjungpura, Prof. Dr. Yohanes Cyprianus Thambun Anyang yang dikutip dari laman ceritadayak.com, “Pada Dayak Taman, tradisi telinga panjang tidak terkait dengan strata sosial tertentu. Tradisi ini khususnya untuk perempuan hanya sebagai identitas keperempuanannya.”
Read more...

Tradisi Adu Betis Dalam Merayakan Panen

0 komentar
Apa yang terjadi jika dua orang pria dewasa saling mengadu kekuatan betis mereka dengan cara menendangkan satu sama lain? Itu lah kira-kira yang terjadi dalam masyarakat Sulawesi Selatan tepatnya di Moncongloe, Kabupaten Maros setiap masa panen tiba. Adu Betis atau dikenal dengan sebutan Mappalanca memang sebuah permainan rakyat yang telah menjadi tradisi turun temurun.

Tradisi adu betis memang menjadi tradisi yang menarik untuk disaksikan. Setiap pria saling unjuk kekuatan dengan mengadu betis mereka. Baik tua maupun muda ikut berpartisipasi dalam tradisi ini. Sorak-sorai penonton semakin memeriahkan suasana kegembiraan pasca panen ini.

Uniknya, tradisi ini diadakan di tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat. Sebuah pemakaman keramat yang letaknya agak jauh dari pemukiman penduduk dijadikan lokasi dilaksanakannya tradisi ini. Makam yang terletak di sebuah bangunan dan ditumbuhi pohon-pohon ini dipercaya sebagai makam Gallarang Monconloe yakni leluhur desa sekaligus paman dari Raja Gowa Sultan Alaudin.

Tradisi adu betis biasa dilakukan pada Agustus bertepatan dengan masa panen dan pesta tahunan Agustusan (Perayaan Hut Kemerdekaan RI). Pada dasarnya, tradisi ini menjadi bagian dari serangkaian pesta tahunan untuk merayakan masa panen. Dalam tradisi ini juga terdapat upacara tumbuk padi (akdengka ase lolo) dan sepak takraw (paraga).

Pesta Tahunan ini merupakan acara akbar. Oleh karenanya pelaksanaannya pun diorganisir oleh sebuah kepanitiaan dengan melibatkan seluruh penduruk. Pendanaan pun dilakukan secara bergotong royong dengan mengumpulkan gabah dan uang. Hal ini juga menjadi cerminan dari nilai-nilai bangsa Indonesia.
Adu betis dimulai secara berkelompok. Para pria membentuk sebuah lingkaran besar, sementara para penonton menyaksikan di tepian arena. Setelah aba-aba diberikan, para pria tadi saling menendangkan betis mereka sebagai bentuk adu kekuatan. Tidak ada pemenang dalam tradisi ini. Nilai patriotisme serta kebersamaan lebih ditonjolkan dalam adu betis ini.

Adu betis merupakan salah satu dari beragam kebudayaan Indonesia yang terbilang unik. Selain keunikannya, tradisi adu betis terus dilaksanakan dari tahun ke tahun demi mempertahankan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai kebersamaan, solidaritas dan patriotisme merupakan kearifan lokal yang berusaha dipertahankan melalui tradisi adu betis ini.
Read more...
 
Imam Mudji's blog © 2011 GONJOL WEB DESIGN. Supported by Gonjol's Themes ByKak Imam